Kalender Jawa: Warisan Sultan Agung yang Masih Dipakai
Sistem penanggalan yang menggabungkan tahun Saka dengan perhitungan bulan Hijriah.
Penyatuan dua sistem
Pada 1633 Masehi, Sultan Agung dari Mataram mengganti kalender Saka yang berbasis matahari dengan sistem yang mengikuti peredaran bulan seperti Hijriah — tetapi angka tahunnya tetap dilanjutkan dari Saka, tidak dimulai dari satu. Karena itu tahun Jawa selalu lebih besar sekitar 512 dari tahun Hijriah.
Nama-nama bulannya
Dua belas bulan Jawa adalah Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadilawal, Jumadilakir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Sela, dan Besar. Sebagian namanya jelas berasal dari bulan Hijriah dengan penyesuaian lidah Jawa.
Windu: siklus delapan tahun
Tahun Jawa dikelompokkan dalam windu, yaitu daur delapan tahun dengan nama Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir. Penamaan ini masih dipakai dalam penentuan hari besar tradisi dan upacara adat.
Kenapa masih relevan
Kalender Jawa tetap dipakai untuk menentukan hari peringatan, selamatan, dan penanggalan adat di banyak daerah. Malam 1 Sura, misalnya, masih diperingati secara luas sebagai pergantian tahun Jawa.